Headlines News :
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Pemerintah Akui Masih Banyak Sekolah Rusak

Posted on 14 February 2012 | 8:30:00 PM

Pemerintah Akui Masih Banyak Sekolah Rusak JAKARTA. Program rehabilitasi sekolah yang dilakukan pemerintah di tahun 2011 belum tuntas sepenuhnya. Hingga saat ini, baru 32% program rehabilitasi yang sudah dilakukan.

"Sudah 32 persen yang rampung, tapi masih ada juga yang dalam proses," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuhdi Kantor Wapres, Jakarta, Selasa (14/2).

Karena itu, pada 2012, pemerintah menyiapkan anggaran rehabilitasi 173.344 ruang kelas dengan total anggaran Rp15,822 triliun. Ditargetkan rehabilitasi ruang sekolah yang rusak berat tuntas pada Oktober 2012.

Untuk tahun anggaran 2011, Pemerintah Pusat merehabilitasi 21.500 ruangan SD dan SMP yang rusak berat (SD 18.000 ruang dan SMP 3.500 ruang) dengan total anggaran Rp1,597 triliun (SD Rp1,275 triliun dan SMP Rp322 miliar).

Dari rencana rehabilitasi ruang SD dan SMP, yang sudah selesai 100% tercatat sebesar 32,5 %, yang tersebar di 1.167 Sekolah.

Nuh mengatakan, penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah adalah wewenang dan tanggung jawab pemerintah daerah. Tanggung jawab itu tentu termasuk penyediaan sarananya, seperti ruang sekolah yang layak.

Kendati ini tanggung jawab daerah, lanjutnya, intervensi pusat untuk perbaikan sarana sekolah ini menjadi agenda utama rapat Komite Pendidikan kali ini, yang langsung dipimpin oleh Wakil Presiden Boediono.

"Rehabilitasi ruang kelas SD dan SMP yang masuk tahun anggaran 2011 akan selesai seluruhnya pada akhir Maret 2012," kata Nuh. (Mad/OL-9)

Jurnal Ilmiah seharusnya untuk S2 dan S3 Saja

Jurnal Ilmiah seharusnya untuk S2 dan S3 Saja JAKARTA. Mantan Mendiknas (sekarang Mendikbud) Bambang Sudibyo meragukan kalangan mahasiswa S1 dapat menulis jurnal ilmiah secara baik. Sebab itu, ia mengusulkan syarat kelulusan menulis jurnal ilmiah diperuntukan bagi kalangan S2 dan S3 saja.

"Saya tidak yakin kalau lulusan S1 diwajibkan menulis jurnal ilmiah sanggup melakukan itu, apalagi sebagai syarat kelulusan mengingat tradisi menulis dan tradisi penelitian mahasiswa S1 kita belum kuat. Sebab itu sebaiknya syarat kelulusan menulis jurnal ilmiah khusus bagi mahasiswa S2- S3 saja," kata Bambang Sudibyo menjawab wartawan seusai memberi keterangan terkait gelaran Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) 2012 di Jakarta, Selasa (14/2).

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) itu berharap kebijakan Ditjen Dikti Kemendikbud yang tertuang dalam edaran kepada seluruh Rektor PTN dan PTS seluruh Indonesia itu dapat dipertimbangkan kembali sebaik-baiknya.

Pada kesempatan terpisah Sekjen Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTIS) Suyatno menyatakan Aptisi tidak menolak edaran Ditjen Dikti Kemendikbut tersebut, "Kami mengapresiasi penulisan jurnal ilmiah itu bagus guna mentradisikan mahasiswa kita menulis. Namun Aptisi menolak kalau itu menjadi syarat kelulusan bagi mahasiswa S1," pungkasnya. (Bay/OL-2)

Program RSBI jangan Langsung Dinilai Gagal

Program RSBI jangan Langsung Dinilai Gagal SOLO. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional Suyanto meminta masyarakat untuk tidak buru-buru memvonis program rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) gagal dan hanya bentuk komersialisasi pendidikan.

Hal itu dikemukakannya seusai membuka Olimpiade Sains Nasional ke-3 Sekolah Menengah Pertama (SMP) RSBI di Solo, Selasa (14/2). Apalagi, menurut Suyanto, masa uji coba program ini belum selesai.

Dari tujuh tahun yang direncanakan sekarang baru berjalan enam tahun. Sehingga wajar jika masih terdapat kekurangan di sana-sini.

"Di Amerika itu, sekolah yang bagus rata berusia 200 sampai 300 tahun. Tidak bisa dibandingkan dengan RSBI yang baru 6 tahun," katanya.

Suyanto menambahkan masyarakat semestinya ikut mendukung agar program RSBI ini berjalan baik. Karena keberadaannya untuk membela dunia pendidikan nasional.

RSBI diharapkan mampu menghadang masuknya sekolah-sekolah asing yang sangat dimungkinkan dengan dibukanya keran perdagangan bebas.

"Kalau tidak ada RSBI suatu saat Indonesia akan kebanjiran sekolah asing. Kurang lebih sama seperti buah-buahan dimana buah impor menyerbu pasar tanah air," katanya. (FR/OL-04)

Aneh, Lucu dan Menarik

Berita Aneh, Lucu dan Menarik Lainnya »